Cemara, Sepotong Hati yang Hilang



                     





 
Diriku terpaku menatap diam hamparan lumpur basah dan lengket yang terbentang di hadapanku. Suasana sore itu cukup temaram, dengan mendung dan rintik-rintik hujan lembut yang menerpa wajahku. hanya dingin dan sepi kurasakan. Mataku masih saja terus menerawang, meniti jengkal demi jengkal tanah berlumpur yang masih tampak basah dan tergenangi air keruh. Sepekan sudah proses evakuasi korban dihentikan, jenazah-jenazah yang tidak berhasil dikenali telah dimakamkan secara masal. Seperti orang gila, setiap hari kususuri hamparan lumpur nan becek ini, sejengkal demi sejengkal, tanpa bosan, dan selalu dalam diam. Tiada jemu, walaupun tempat ini telah sepi dari hiruk pikuk keramaian proses evakuasi yang telah berlangsung 3 minggu sebelumnya. Hanya menyisakan jejak-jejak kaki yang banyak jumlahnya, galur-galur rantai becho yang telaten mengais-ais timbunan lumpur tebal yang mengenggelamkan rumah-rumah, hewan ternak, tanaman pertanian, harta benda dan juga nyawa. Semuanya terkubur dalam timbunan lumpur dan batuan yang meluncur deras tanpa terduga, tanpa ada yang bisa menghadang, menghalangi, mengubur semua impian asa dan harapan. Mengubur semuanya dalam duka dan nestapa.
Sudah semuanya kujelajahi, setiap hari dari mentari mulai muncul di ufuk timur, dan kembali ke peraduannya dengan warna mega cakrawala senja. Sejengkal demi sejengkal dengan sabar. Hingga hari ini aku kemudian berteriak dengan lantang, mengeluarkan semua beban, gelisah, marah, dan takut. Araaaa… dimana kauuuuu…, dimanakah kau araaaaa? jawaaaaaaab.suara lantang yang kemudian hilang begitu saja tertelan senyap, tertelan luasnya hamparan lumpur yang menyisakan banyak cerita. Percuma saja, teriakan lantangku tiada akan menemukan jawab darimu. Lelah dengan harapan, membuat fisikku lemas seketika itu juga. Kakiku yang seakan tiada mengenal lelah menyusur, dan berdiri seakan menjadi seuntai benang basah yang tiada bisa tegak. Seketika itu aku duduk di batang pohon melintang yang tercerabut dengan ganas di hari nahas itu. Mataku yang sebelumnya menatap nanar, dan dengan jalangnya menelisik dan menelanjangi sejengkal demi sejengkal tanah berlumpur itu, tiba-tiba padam nyalanya, hanya bisa tertunduk, bahkan hanya sekedar memandang hamparan lumpur itupun tiada jua mampu. Mataku berkaca-kaca, dan tiba-tiba kurasakan hangatnya air mata yang meleleh di kedua pipiku. Kubiarkan saja air mata itu mengalir, dan menetes bercampur dan berbagi cerita dengan genangan air yang berada di bawah kakiku. Biarkan ia bergabung dengan jutaan tetes air lainnya, terakumulasi dan bersinergi dalam senyap. Biarkan hangatnya memberikan nuansa lain dalam hatiku yang dingin. Kurasakan begitu damai. Memang, menangis itu fitrah, tiada salahnya membiarkan air matamu mengalir bebas, lepas, mengekspresikan kepedihan, kesedihan yang kaurasa. Sedikit membasuh luka yang menganga, walaupun kenangan itu tiada akan pernah sirna bersamanya.
Damai hati yang kini kurasa, membuat pikiranku melayang jauh, membawanya menerobos dinding waktu dan mengumpulkan kenangan demi kenangan yang terserak. Sedikit demi sedikit, gambaran masa lalu itu muncul kembali dalam benakku, tidak teratur, namun semuanya jelas. Seperti potongan film yang tengah dalam proses editing. Gambaran betapa sejuk dan asrinya desa tempat tinggalku, dengan hamparan persawahan luas dan tertata rapi dalam barisan terasiring. Sebuah pemandangan yang indah penuh warna dalam pergantian musimnya. Kontras sekali dengan pemandangan yang kini terpapar di depan mataku. Sejauh mata memandang hanyalah gundukan lumpur, batu, puing-puing reruntuhan, dan onggokan batang-batang pohon yang melintang tiada beraturan. Desaku yang dulunya cukup padat pemukimannya, dimana masing-masing rumah memiliki pekarangan yang penuh dengan palawija, dan pohon buah. Pemukiman yang ramah dengan segenap adat istiadat dan nilai-nilai yang diyakininya. Semuanya yang kini hanya menyisakan reruntuhan bisu yang porak poranda. Desaku yang sungainya senantiasa mengalir jernih, segar, dan melimpah tanpa kenal musim.dimana sumbernya berasal dari mata air yang banyak jumlahnya dan senantiasa terjaga dalam lebat dan rindangnya pepohonan yang tumbuh di puncak bukit, tidak jauh dari desa kami. Hutan yang mencengkram tanah dengan kokoh, dan menyerap air hujan untuk kemudian dilimpahkan kepada penduduknya dengan kasih sayang melalui sungai-sungai dan mata air yang tiada pernah surut alirannya. Sebuah potret kesempurnaan hidup pembangkit hidup nan inspiratif, Gemah Ripah Loh Jinawi, Tata Tentrem Kerta Raharja.
Sebuah keindahan yang kini hilang berganti kesedihan, korban sebuah ketamakan, keserakahan, arogansi, dan kesombongan kolektif tangan-tangan manusia yang tiada pernah puas, senantiasa berkehendak lebih. Merusak tatanan harmoni yang teralun lembut dalam accord keseimbangan. Nada dasar kehidupan yang tercipta begitu presisi tanpa cela, tanpa cacat. Begitu cepat, tiba-tiba gelombang memoriku beralih frekuensi pada sosok wajah yang sangat lekat dan dekat denganku. Wajah seorang gadis manis nan lincah penuh semangat yang begitu sosoknya begitu kurindu, sosok gadis yang begitu akrab dalam pandang, dan ucapanku. Ara, begitulah lisanku akrab memanggilnya. Gadis inspiratif yang usianya terpaut tidak jauh dari usiaku, hanya 2 tahun lebih muda dariku. Tanpa kusadari bibir ini sedikit menyunggingkan senyum ketika membayangkan betapa kontras nama panjang gadis itu dengan karakternya, Indah Putri Cemara, begitulah kedua orang tuanya memberikan nama. Bisa jadi harapannya agar kelak anak tersebut akan menjadi sosok lembut nan cantik jelita bak seorang putri. Namun kenyataannya anak tersebut tumbuh dan berkembang menjadi sosok gadis yang tangguh, lincah, dengan sorot mata bening dan tajam, yang menunjukkan betapa cerdas dan gigihnya ia. Sosok keras kepala, dan juga tomboy. Entah kenapa mengingatmu menjadikan rasa sedih itu terkuak kembali, kali ini dengan rasa aneh yang didefinisikan sebagai rindu oleh orang banyak. Ara, sosok sahabat masa kecil yang kini tiada lagi mengisi ruang keriangan masa kecil, namun telah berganti pada relung hati merah jambu yang bernama kekasih. Belum pernah atau mungkin kali ini menjadi tidak akan pernah diriku ada kesempatan untuk mengungkapkan rasa itu secara lisan padamu, hanya sebatas isyarat dalam bentuk tatapan hangat, dan penuh perhatian yang terlontar padamu kala berbincang, hanya melalui dua telinga yang selalu terbuka untuk mendengarkan segala keluh kesahmu, yang lagi-lagi bicara tentang susahnya menyadarkan warga desa untuk tidak melakukan penebangan hutan di perbukitan dengan serampangan. Tentang mulai masuknya banyak investor luar desa yang membeli lahan perbukitan tersebut dan menggantinya dengan tanaman kentang. Dan tentang minimnya kesadaran masyarakat kalau hilangnya mata air satu demi satu, serta berkurangnya debit aliran air sungai itu tiada terlepas dari kegiatan pemerkosaan yang mereka lakukan secara istiqamah  terhadap lahan hutan di kawasan perbukitan, yang selama ini telah berbagi kasih sayangnya melalui udara yang segar, tanah yang subur dan air yang melimpah. Ataupun melalui tangan yang selalu terulur untuk merealisasikan semua ide-ide besar penyelamatan lingkungan yang ada di kepalamu. Ara, mungkin kau tidak merasakan hal yang sama seperti yang kurasa, mungkin cintamu lebih dalam kepada alam. Biarlah, karena memandang wajah lelahmu yang senantiasa bersemangat itu sudah jadi penawar kerinduanku yang kian mengharu biru.
Araaaaaa….dimana kau?jawaaab araaaa…jawaaab araaaa…dimanakah kau?tiba-tiba teriakanku kembali terdengar lantang membelah kesunyian senja yang lambat laun makin temaram. Lagi-lagi teriakan lantang seperti sebuah katarsis yang hendak kulepaskan hilang, lenyap ditelan senyap. Kenapa kau diam ara?, kenapa kau berubah tidak seperti dulu ketika aku berteriak memanggilmu yang tiba-tiba terperosok ke lereng curam?. Lagi-lagi memori masa laluku kembali diputar, kali ini ke masa kecilku, saat semuanya masih riang dalam balutan persahabatan.
“Ara…pulanglah kau! Jangan kau ikuti aku! Teriakku kepada si kecil ara yang begitu keras kepala hendak mengikutiku berpetualang mencari serangga, jamur, dan buah-buahan yang ada di hutan. Tidak mauuuu…Ara hanya mau ikut kak Kukuh ke hutan, Ara bisa jaga diri kok, Ara tidak akan mengganggu kak Kukuh. Teriaknya tidak kalah keras kepadaku, diiringi dengan gerakan naik turun rambut kepalanya yang dikuncir dua. Tatapan matanya tegas, dan meyakinkan. Tiada berubah dari kecil, hingga dewasa. Tatapan itulah yang selalu bisa meluluhkan kerasnya hati, dan sekaligus meyakinkanku bahwa Ara tahu apa yang akan dia lakukan. Perjalanan ke hutan yang begitu berkesan dan menyenangkan, dimana kami berlarian bersama di tengah hutan, mencari serangga-serangga yang bersembunyi di balik batu, atau menempel di batang-batang pohon, mencari jamur di hutan dan berteduh di bawah pohon sambil memakan buah-buahan yang kami temukan di hutan. Hari itu berjalan aman dan menyenangkan, sampai tiba-tiba Ara yang berlarian riang ke tepi lereng terpeleset dan meluncur jatuh kebawah. Kak Kukuuuuuuh, teriaknya diiringi dengan suara gemeresak ranting kering, dan semak belukar yang memenuhi lereng. Beruntung tubuh kecilnya tidak terseret lebih jauh akibat tersangkut di semak belukar lebat. Segera aku lompat dari banir besar sebuah pohon rindang tempat istirahat singkatku dan lantas berlari menuju ke sumber suara. Tidak kutemukan apapun, hutan kembali menjadi senyap. Tiada beberapa lama aku berteriak memanggil Ara dengan suara lantang. Araaa…Araaaa…dimana kau? Araaaa.Lagi-lagi suaraku tertelan senyapnya hutan yang mulai beranjak temaram.Araaaaa….dimana kau?, aku mencoba berteriak lagi, kali ini lebih lantang. Di tengah-tengah keputus asaanku, tiba-tiba terdengar lamat-lamat suara ara. Kak Kukuh Ara disini kak, Ara Alhamdulillah baik-baik saja. Suara yang membangkitkan semangat dalam diri ini untuk bergerak mencari sumber suara itu berasal. Tak begitu lama segera saja aku melihat sosok kecil Ara yang berdiri cukup jauh di bawah lereng, di tengah gerumbulan semak belukar. Sedikit tenang hatiku ketika melihatnya berdiri melambai-lambaikan tangannya keatas, sembari nyengir menahan sakit. Kak Kukuh..kak Kukuuuuh…Ara disini kaaaak. Teriaknya dengan lantang. Iyaaa… tunggu sebentar kakak akan turun segera. Curam, dan dalamnya lereng sepertinya tidak menjadi penghalangku untuk segera turun melihat kondisi Ara. Terang saja kakiku yang telanjang lantas menjadi sasaran empuk kerikil-kerikil tajam, semak berduri dan ranting-ranting runcing yang menghiasi lereng. Sakit di sekujur tubuh kurasakan, tetapi tetap saja kaki ini kulangkahkan menuruni lereng terjal itu dengan segera.  Sesampainya di bawah segera kugenggam tangan gadis kecil itu, tanpa bicara sepatah katapun aku memperhatikan detail kondisi Ara, mencari kalau-kalau ada yang terluka parah. Ajaib, Ara kecil tidak lantas menangis meraung-raung, bahkan sembabpun tidak, ia hanya kaget, wajahnya pucat dan penuh goresan, tangan, kaki nya pun sama, baju putih lengan pendek yang dia kenakan pun kotor, dan sedikit sobek. Selebihnya nyala semangat di matanya yang tegas tetap ada, selebihnya hanya mulutnya yang nyengir menahan sakit. Lagi-lagi kupandang dia dengan lekat, kali ini sambil bertanya, Ara tidak apa-apa?. Ara baik-baik saja kak, maafkan ara kak, sudah merepotkan dan membuat khawatir kak Kukuh, terima kasih banyak kak, maafkan Ara ya.lain kali Ara diajak lagi ya kalau kak Kukuh mau main-main lagi ke hutan. Kali ini Ara yang memegang erat tanganku, dan memandangku penuh harap. Tiada banyak kata yang keluar dari lisanku, seakan tertutupi oleh kegembiraan yang membuncah melihat Ara baik-baik saja. Gadis keras kepala yang tidak merajuk karena jatuh, malah merajuk dan memohon agar diajak lagi lain waktu untuk berpetualang di tengah hutan. Tiada kujawab pertanyaan Ara melainkan hanya sekedar anggukan kepala yang tegas. Walaupun sejak itulah aku berjanji dalam diriku bahwa tiada lagi Ara akan kutinggalkan sendiri, dan tiada lagi yang boleh membuatnya terluka. Sebuah janji sederhana, dalam pikiran sederhana seorang bocah kecil yang ternyata terus kupegang dan aku ikhtiarkan hingga beranjak dewasa. Sebuah janji yang membuatku merasa begitu bersalah, berdosa, dan tertekan ketika melihat namamu terpampang di daftar pencarian orang hilang  dalam bencana tanah longsor yang menimbun lebih dari separuh desaku. Ara, maafkanku atas sebuah janji yang tidak bisa kutepati.
Memang tiada salahnya berharap pada keajaiban, namun berharap waktu dapat diputar kembali adalah sebuah khayalan, sebuah kemustahilan, sebuah kesia-siaan dalam harap. Bukankah yang paling jauh adalah masa lalu, dan yang paling dekat adalah ajal. Masa lalu dan ajal, dua kata yang begitu akrab dan dekat denganku saat ini. Masa lalu yang penuh dengan memori indah kebersamaan, yang semakin kugenggam terasa semakin sakit, bak kawat berduri yang kuremas erat kemudian direnggut dengan paksa. Sakit, perih, dan pedih. Sekejap kenangan-kenangan indah masa lalu itu berinkarnasi menjadi luka, dan duka. Ajal yang tiada pernah bicara ketika bersua, tanpa pernah kompromi, dan tiada pernah terlambat ataupun mendahului sedetikpun, ia yang hadir selalu tepat waktu. Tanpa pandang bulu memisahkan ruh manusia dari jasadnya yang fana menuju keabadian. Seringkali pertanyaan dan pernyataan aneh bersliweran dalam hati dan pikiranku. Sebuah pergulatan sengit antara nafsu dan keyakinan, yang karena dominansi ketidakrelaan menjadikan kubu nafsu selalu memenangkan pergumulan itu, yang lantas memunculkan pernyataan marah atas ketidak adilan takdir, memunculkan pertanyaan kenapa harus sekarang Ara terenggut?, dan kenapa harus Ara?. Apakah malaikat maut tidak tahu betapa keras dan istiqamahnya dia mengikhtiarkan bukit gundul nan terjal itu kembali ditumbuhi pepohonan rindang. Betapa semangatnya dia menjelaskan berulang kali kepada penduduk desa untuk bekerja bersama memulihkan ekosistem bukit gundul itu seperti semula, sebuah ajakan yang selalu dianggap lalu oleh masyarakat, hanya karena alasan uang. Bahkan tidak sering kehadirannya dianggap penduduk sebagai musuh bersama, dianggap sebagai anak gadis lulusan perguruan tinggi yang sok tahu dan tidak mengerti realita, hanya tahu idealita. Betapa tidak adilnya kehidupan ini.
Sekarang semuanya telah terjadi, semuanya telah terlambat untuk disadari. Kini tiada lagi senyum ramah gadis tomboy berkulit sawo matang itu. Senyum yang selalu merekah ketika mengajari anak-anak sekolah dasar untuk menanam. Senyum yang selalu terpatri, bahkan ketika dahimu penuh dengan peluh, bekerja sendirian membangun tempat persemaian kecil di pekarangan rumahmu yang cukup luas. Semai yang tumbuh menghijau penuh cinta dan harap. Semai yang nantinya akan kau bagikan Cuma-Cuma kepada semua penduduk desa, hanya untuk sebuah harapan mereka mau nenanam dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Kali ini tangan lembut itu telah tiada, tangan yang terlihat cekatan memindahkan beratus-ratus polybag ke lubang tanam yang telah tersedia, mengangkutnya dengan gerobak ke bukit gundul itu. Semuanya telah lenyap dalam senyap.
Begitu cepat kejadian itu, otakku mencoba memutar kembali memori detik-detik tragedi itu.  Betapa dahsyatnya kuasa Allah atas kehidupan. Hanya hitungan detik longsoran lumpur, dan bebatuan itu meluncur deras menghujam puluhan rumah yang berada tepat di bawahnya. Hanya dalam hitungan detik semuanya rata tertutup ribuan kubik lumpur dan batu. Cepat sekali kejadian itu, tiada seorangpun yang mampu lari dari takdirnya sendiri. Tiada terdengar jeritan, hanya gemuruh hebat yang terdengar. Gemuruh yang membuat diriku terperanjat kaget dari tidurku yang lelap, di malam yang berselimut hujan lebat dan petir yang berkelebat. Suara gemuruh yang ternyata juga turut mengejutkan keluarga dan warga sekitar rumahku. Seketika itu juga aku melompat dari tempat tidur dan berlari keluar rumah, mencoba memastikan apa yang terjadi, memastikan semuanya aman. Kulihat banyak orang yang juga berhamburan keluar rumah. Sama seperti diriku, mereka semua bingung dan terkejut atas apa yang tejadi. Suasana memang gelap, mendung tebal yang menggulung diiringi hujan lebat dan petir berkelebat menambah kelamnya malam. Ditambah lagi listrik kampung kami yang padam dari saat awal hujan deras itu datang. Cukup kesulitan penglihatan kami semua mencari tahu suara apa yang bergemuruh itu?, dari manakah asalnya?. Sejenak aku bersyukur atas keselamatan yang menimpa diri kami semuanya. Namun betapa rasa syukur yang terucap itu serta-merta berubah menjadi kepanikan setelah tiba-tiba ada seseorang yang berteriak lantang Tanah Longsooor…Tanah Longsooor…sontak semua mata tertuju ke arah sumber suara. Betapa kaget dan kalutnya kami semua, ternyata tidak cukup jauh dari kediaman kami tampak gundukan besar yang mengubur rata sisi bawah dari kampung kami yang dihuni lebih dari separuh penduduknya.  Ah…begitu cepat peristiwa itu Ara, begitu mendadak. Ingin rasanya saat itu aku berlari sekuat tenaga untuk mencarimu, menyelamatkanmu, sambil terus berharap kau tidak sedang di sana malam itu. Tapi sayangnya kabar mengejutkan itu menjadikan separuh tenagaku rontok, sekujur badanku terasa lemas. Cukup lama aku hanya bisa berdiri mematung, menatap gundukan lumpur dan batuan itu dari kejauhan.  Sejenak setelah kesadaranku kembali, aku berlari kencang ke lokasi longsor, menyeruak ke tengah kerumunan orang yang berkumpul di pinggir lokasi, kembali menatap hamparan lumpur dan batuan itu dengan pandangan kosong yang menarawang jauh. Hanya melihat dan menunggu yang bisa kami lakukan, tidak banyak. Malam memang sebentar lagi berganti fajar, tetapi suasana gelap, kalut, dan takut menyebabkan kami semua tidak bisa bertindak apa-apa. Sebuah peristiwa yang menyadarkan dan menghentak kesombongan kami semuannya. Sebuah kesadaran atas ke Maha Kuasa-an Allah Sang Raja Pemilik Alam Raya Beserta Segala Sesuatu di Dalamnya. Sebuah kesadaran betapa lemah, dan kecilnya manusia di Hadapan-Nya. Sebuah malam tragis yang menjadi pengingat bagi kami semua akan pentingnya menjaga Mizan (keseimbangan) yang telah Allah amanahkan kepada manusia untuk selalu dijaga dan dipelihara. Amanah keseimbangan lingkungan yang seringkali terkalahkan oleh ketamakan, keserakahan, dan kesombongan makhluk bernama manusia.
Kembali lagi teringat akan sosokmu, yang ketika itu menjawab pertanyaan atau lebih tepatnya protes yang kulayangkan kepadamu. “Kenapa kau masih mau menghabiskan usiamu, masa mudamu, kepintaranmu, tenagamu hanya untuk menanam pohon, mengingatkan orang akan kewajibannya menjaga dan merawat lingkungan. padahal kau sendiri tahu Ara, betapa mereka tidak pernah sedikitpun menggubrismu, bahkan lebih sering menghina dan meremehkanmu?, kenapa, hah..?teriakku dengan nada yang tinggi, tepat sehari sebelum terjadinya tragedi tanah  longsor itu. Pilihan nada yang terpaksa kugunakan untuk berbicara pada gadis keras kepala sepertinya, pilihan intonasi yang belakangan ini sangat kusesali terucap padanya. Sosok gadis yang kucintai dalam diam. Sedikitpun kau tidak marah kepadaku waktu itu. Kuingat kau hanya tersenyum dan menatapku dengan dalam. Tatapan yang membuatku terrpaksa memalingkan muka, bukan karena marah, tetapi karena takut kau bisa melihat wajahku tiba-tiba memerah karena malu. Kak Kukuh, Ara sangat berterima kasih atas kepedulian dan pendampingan yang telah kakak berikan selama ini kepada Ara. Satu-satunya orang yang mau berjuang bersama Ara di sini. Ara, tidak peduli dengan anggapan orang kepada Ara, tidak butuh pujian dan dukungan mereka semuanya. Ara hanya yakin, bahwa semuanya kegiatan yang Ara lakukan ini bernilai ibadah di sisi Allah. Amal-amal yang akan mengalirkan pahala melimpah tiada terputus bagi Ara kelak. Karena kita tidak pernah tahu pasti kak, kapan ruh ini kembali ke pangkuan-Nya, kita tidak pernah tahu kak. Ucapan terakhirnya terdengar bergetar keluar dari lisannya. Kulihat sorot matanya yang bercahanya menjadi redup, dan pandangannya yang semula menatapku tiba-tiba tertunduk. Hening kurasakan sore itu. Entah kenapa firasatku mengatakan aku tidak akan pernah kembali melihatnya, seakan-akan itu adalah sore terakhir kami berjumpa. Cepat-cepat kuenyahkan pikiran aneh, kupandang lagi wajah Ara yang tengah tertunduk, kulihat pipinya yang basah oleh air mata. Terhenyak diriku melihatnya, baru pertama kali ini gadis itu menangis di hadapanku, gadis tangguh yang selalu kurindu itu kini menangis haru di hadapanku. Sekali lagi aku hanya bisa melihatnya, tiada pernah bisa menggenggam tangannya apalagi mendekapnya erat, aku sangat meyakini pancaran kasih dan sayang yang aku sampaikan padanya lebih kuat dan suci daripada sekedar ekspresi genggaman tangan, dan peluk yang lebih didominansi oleh kotornya nafsu. Maafkan aku Ara. Hanya kalimat itu yang bisa terucap. Kalimat singkat yang begitu dalam maknanya, kalimat yang sangat dipahami Ara, yang begitu mengenal baik karakter laki-laki pendiam sepertiku. Kalimat yang tidak hanya bermakna maaf semata, tetapi mengandung janji, dan komitmen yang kuat untuk selalu berada di sampingnya, membantu sekuat tenaga untuk mewujudkan cita-citanya. Aku yakin kau mengerti itu Ara.
Suara adzan yang mengalun lembut di telinga, terbawa desir angin yang mulai dingin menghembus membuatku kembali tersadar akan lamunan panjangku. Kulihat mentari sudah sempurna kembali ke peraduannya, hanya tampak semburat merah tipis yang berpadu dalam gelap dan sendunya langit malam. Segera diriku bangkit dari duduk dan melangkah kembali menuju ke rumah. Pencarian dan renungan panjangku hari ini menghadirkan kembali semangat dan kesadaranku yang selama ini terlupakan oleh kusut dan kalutnya suasana. Sebuah kesadaran akan janji bahwa kelak kita akan dipertemukan kembali kelak di syurga-Nya dengan orang yang kita cintai, dengan orang yang kita sayangi. Selama kita meneruskan kebaikan dan amal ibadah orang itu dengan ikhlas lillahi ta’ala. Kesadaran itu yang membuat langkah kakiku kini tiada lagi berat. Kali ini aku melangkah pulang dengan sebuah optimisme, dengan semangat dan komitmen baru. Dendam dan amarah yang menggelayuti diriku akhir-akhir ini perlahan menghilang, memudar, sepertihalnya malam kelam yang tergantikan oleh fajar. Rasa syukur yang tiada terkira kulantunkan atas segenap nikmat yang telah Allah berikan kepadaku. Termasuk nikmat belajar mengambil hikmah dari salah satu potongan puzzle hidupku yang kelam, bernama kematian. Bukankah memang kita semua diminta belajar dari kematian? Bukankah kematian memang sebuah pelajaran yang terbaik?, sayangnya banyak orang yang melihat betapa dekatnya ajal berada di sekelilingnya, tetapi tidak pernah cukup belajar darinya. Entahlah, mungkin karena begitu sering dan biasanya, sehingga semuanya berlalu begitu saja tanpa ada hal spesial yang bisa diambil hikmahnya. Memang jadi tabiat manusia yang seringkali terlambat menyadarinya, baru merasa memiliki ketika sesuatu itu tidak ada. Ya Allah jauhkanlah kami semua dari kekufuran atas segenap nikmat dan karunia yang Engkau berikan kepada Kami setiap detiknya, dan kumpulkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersyukur.


RezkyWicaksono

Komentar